2009-12-06

 
 
 
 
Renungan Untuk Calon Bupati Butur 2010-2015
 
 
Oleh: Harmin Hari
 
 
(Masyarakat Butur di Kendari)
 
     
 
Genderang Pilkada Butur untuk memilih pimpinan Bupati/Wakil Bupati definitif sudah di tabuh. Setidaknya para peminat Bupati sudah melakukan rayuan kepada masyarakat. Rayuannya pun mulai ditebar dengan alat komunikasi bervariasi mulai dari penyebaran stiker, spanduk, baleho, berkunjung ke pelosok daerah pedesaan hingga mengumpul massa untuk silaturahmi. Alat komunikasi tersebut sungguh-sungguh menjanjikan, melegakan, mencerahkan walaupun belum tentu dapat dibuktikan nantinya setelah terpilih. Beberapa contoh saja misalnya mereka akan menjadi pemimpin amanah, merakyat, menggratiskan pendidikan dan kesehatan dan masih banyak lagi. Bukan itu saja, ada saja calon yang sedikit arogan bahwa Butur mekar ditangannya dan karenanya masa depan Butur ada di bahunya. Saking menjanjikannya, bukankah janji mereka hanya sekadar rayuan yang utopia bila tidak ingin dikatakan mereka hendak membodohi rakyatnya sendiri. Atau juga sekadar pamer diri, atau unjuk gigi bahwa mereka adalah mampu untuk membawa Butur kearah yang lebih baik. Atau mungkin juga mereka benar-benar siap lahir batin untuk mengantar Butur menuju kemaslahatan rakyat dan lingkungannya.

Untuk direnungkan

Bahwa menjadi Bupati Butur adalah tujuan mulia bila dilandasi dengan niat baik, tetapi juga bisa menjadi malapetaka bila ada niat lain. Sayapun sering diingatkan oleh sahabat saya, wakil Walikota Kendari (Mussdar Mapasomba) bahwa untuk menjadi pejabat itu perlu luruskan niat, maksimalkan ikhtiar dan tawakal kepada Tuhan. Karenanya semangat menyala-nyala sang peminat Bupati Butur harus dilakukan kontemplasi mendalam dalam suasana kebatinan yang hakiki. Benarkah tujuan ini untuk membangun Butur beserta masyarakatnya dan lingkungannya. Ataukah ada tujuan terselubung untuk memperkaya diri sendiri dan keluarga saja. Ataukah terlalu dipaksakan hingga menyiksa diri sendiri, atau bahkan menjadi bahan olok-olok masyarakat atas kemampuan dan keterbatasan yang dimiliki.

Ini penting untuk direnungkan kembali karena Butur yang belum lama mekar, sudah mulai kelihatan belang masing-masing diantara kita masyarakat Butur. Bahwa sudah ada yang tidak tau diri, karena merasa bisa menjadi Bupati tapi karakter yang dilakukan tidak lebih dari membodohi rakyat, merampas uang rakyat atau sekadar pamer diri. Tipikal seperti ini hendaknya menyadari diri untuk tidak main-main dengan Butur. Butur hanya akan mejadi berkah atau “Barakati” kalau dipimpin oleh mereka yang benar-benar amanah, bersih yang dilandasi dengan niat ikhlas.

Sebagai antitesa tipikal pertama tadi, sejujurnya juga diakui bahwa ada mereka yang berniat untuk membangun daerah tercinta Butur dengan sungguh-sungguh, penuh pengorbanan dan ikhlas mengabdi. Tipikal seperti ini pula hendaknya diberikan ruang untuk bersaing secara demokratis dalam pilkada Butur nantinya. Bagi mereka atau putra-putri Butur yang belum berkesempatan untuk bertarung sebagai Bupati dipilkada kali ini, kiranya dapat melakukan perbaikan diri secara menyeluruh, sebaiknya menyempurnakan kemampuan dan kecerdasan secara maksimal baik intelektual, emosional dan spiritual serta finansial. Daerah Butur akan selalu setia menanti kader-kader terbaiknya. Karena hemat saya untuk mengabdi di Butur tidak mesti jadi Bupati saja. Menjadi masyarakat biasapun kalau bersifat dan berprilaku membangun, itu juga namanya mengabdi.

Usulan Untuk Meningkatkan Integritas
Mungkin usulan yang hendak ditawarkan ini tidak masuk dalam ranah hukum aturan pilkada, karena tidak masuk dalam proses tahapan pilkada yang lazim, tetapi sebagai sebuah kearifan lokal bisa saja dilakukan untuk mengingatkan dan memberikan suasana kebatinan yang mendalam bagi para calon Bupati nantinya. Hal ini perlu dilakukan karena terlalu banyak para pejabat di negeri ini seperti Bupati misalnya saat kampanye mengobral janji dan secepat itupula melupakan janjinya. Namanya janji tidak mempunyai kekuatan hukum karenanya bagi mereka yang telah berjanji, walaupun mengingkarinya tidak dapat dituntut oleh masyarakat.

Untuk meningkatkan komitmen dan integritas para calon Bupati nantinya maka sebaiknya mereka bersumpah dihadapan “Sarano Lipu” di Baruga Keraton yang disaksikan oleh pemuka adat, agama serta dihadiri oleh masyarakat secara luas. Sumpah ini dilaksanakan dalam suasana kebatinan yang mendalam, dengan isi sumpah kira-kira seperti“ Bila terpilih menjadi Bupati Butur maka akan memenuhi janji-janji saya dan berlaku seadil-adilnya untuk kemaslahatan masyarakat Butur dan lingkungannya, tidak melakukan korupsi dan apabila mengingkarinya maka semoga dilaknat oleh Tuhan Yang Maha Kuasa”. Usulan ini sudah pasti ada orang yang tidak setuju, kalaupun demikian maka hendaknya mereka yang tidak setuju dapat menyumbangkan ide/gagasan untuk meningkatkan komitmen atau integritas para calon Bupati Butur. Selamat bersaing, semoga kita dapatkan calon Bupati sekaligus Bupati definitif yang membawa Butur kearah yang lebih baik. Semoga

 
 

 

 
 

Editor
Nama : Harmin Hari, SP, M.Si
E-mail : harmin_70@yahoo.co.id
Identitas : KTP-20.5005.230770.0001